Jenis Rangka Atap yang Paling Cocok Dipadukan dengan Material UPVC

atap upvc translucent untuk cafe

Saat merancang atap rumah, banyak orang fokus pada pilihan material penutup atapnya. Mulai dari warna, bentuk, atau harganya. Padahal, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan sejak awal yakni rangka atapnya. Rangka adalah tulang punggung dari seluruh sistem atap. Pemilihan jenisnya pun bisa memengaruhi banyak hal, mulai dari proses pemasangan hingga ketahanan.

Jika Anda sedang mempertimbangkan atap berbahan UPVC, penting untuk memahami karakteristik material ini terlebih dahulu. Material UPVC tergolong ringan dibanding beton atau keramik, namun tetap perlu ditopang rangka yang tepat agar terpasang rapi, kuat, dan tahan lama. Salah pilih rangka, hasilnya bisa mengecewakan meski material atapnya sudah bagus.

Artikel ini akan membahas beberapa jenis rangka atap yang umum digunakan di Indonesia, kelebihan dan kekurangannya, serta mana yang paling sesuai untuk atap UPVC.

Tiga Jenis Rangka Atap yang Sering Digunakan

Di Indonesia, tiga material rangka yang paling sering digunakan untuk atap rumah adalah baja ringan, besi hollow, dan kayu. Ketiganya punya karakteristik yang berbeda, dan masing-masing cocok untuk kondisi tertentu.

Baja Ringan

Baja ringan sudah menjadi pilihan dominan dalam konstruksi rumah modern, terutama untuk hunian dengan bentang atap yang cukup lebar. Material ini terbuat dari campuran baja dengan lapisan anti-karat, sehingga tahan terhadap kelembapan dan tidak mudah lapuk.

Untuk atap UPVC, baja ringan jadi pilihan yang praktis. Bobotnya ringan, proses pemasangannya relatif cepat, dan strukturnya stabil sehingga bisa menopang material atap dengan baik. Baja ringan juga tidak rentan terhadap serangan rayap,sesuatu yang tidak bisa dijamin oleh material kayu.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas baja ringan di pasaran cukup bervariasi. Pastikan Anda menggunakan produk yang sudah memiliki spesifikasi teknis jelas, terutama ketebalan dan kadar lapisan anti-karatnya.

jenis rangka atap baja ringan
Sumber: Dekoruma

Besi Hollow

Besi hollow atau pipa besi persegi juga cukup sering dipakai, terutama untuk struktur kanopi, carport, atau atap tambahan yang tidak terlalu luas. Kekuatannya cukup baik dan bentuknya umumnya persegi memudahkan proses sambungan.

Namun, besi hollow punya kelemahan yang cukup signifikan, yakni rentan terhadap karat jika tidak diberi perlindungan permukaan yang memadai. Di area dengan kelembapan tinggi atau curah hujan besar, tanpa lapisan cat anti-karat yang terjaga, besi hollow bisa mulai berkarat dalam beberapa tahun saja. Untuk penggunaan jangka panjang sebagai rangka atap utama, perlu perawatan rutin yang tidak bisa diabaikan.

aplikasi atap upvc pada cafe

Rangka Kayu

Kayu adalah material tradisional yang sudah digunakan sebagai rangka atap jauh sebelum baja ringan populer. Di beberapa daerah, kayu masih jadi pilihan utama, terutama karena ketersediaannya dan kemudahan pengerjaannya secara manual.

Tapi untuk dipadukan dengan atap UPVC, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Kayu rentan terhadap perubahan kelembapan. Kayu berpotensi bisa memuai dan menyusut sesuai kondisi cuaca. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi kerapian sambungan dan posisi atap. Belum lagi risiko rayap di daerah-daerah tertentu.

Jika tetap ingin menggunakan rangka kayu, pilih jenis kayu yang memiliki kepadatan tinggi dan sudah melalui proses treatment anti-hama.

Jenis rangka atap kayu
Sumber: lantai-kayu.co.id

Jarak Gording Harus Diperhatikan

Selain jenis material rangkanya, satu hal teknis yang sering luput dari perhatian adalah jarak antar gording atau yang dalam istilah teknis sering disebut CNP support distance.

Gording adalah bagian horizontal dari rangka atap yang menjadi tempat bertumpunya material penutup atap. Jarak antar gording yang terlalu jauh bisa membuat lembaran atap melendut di tengah, terutama saat ada beban tambahan seperti air hujan yang menggenang atau seseorang yang harus naik untuk membersihkan atap.

Untuk material UPVC, setiap produsen biasanya memiliki rekomendasi jarak gording maksimal. Rekomendasi ini perlu diikuti agar performa atap optimal, tidak melendut, tidak bergetar berlebih saat hujan deras, dan tetap rapi secara visual. Pastikan Anda atau kontraktor membaca spesifikasi teknis produk sebelum menentukan layout rangka.

Jarak gording yang presisi juga berpengaruh pada proses pemasangan. Lembaran UPVC yang terpasang dengan tumpuan yang tepat akan lebih mudah dikunci dan tidak mudah bergeser saat terkena angin.

Keunggulan UPVC yang Membuatnya Ramah di Berbagai Rangka

Salah satu alasan UPVC semakin banyak dipilih adalah bobotnya yang relatif ringan dibanding material seperti genteng beton atau keramik. Hal ini memberi efek langsung pada beban yang harus ditanggung rangka atap.

Rangka yang menanggung beban lebih ringan cenderung lebih awet dan tidak cepat mengalami deformasi struktural. Artinya, kontraktor pun punya sedikit lebih banyak fleksibilitas dalam merancang kemiringan dan bentang atap meski tetap dalam batas yang direkomendasikan secara teknis.

UPVC juga tidak menyerap air dan tidak berkarat. Ini penting karena salah satu penyebab kerusakan rangka atap adalah rembesan air dari material penutup yang tidak kedap. Dengan atap yang rapat dan tidak bocor, rangka di bawahnya pun lebih terlindungi dari kelembapan berlebih.


Memilih jenis rangka atap bukan sekadar soal harga atau ketersediaan material di pasaran. Ada faktor teknis, kondisi lingkungan, dan kesesuaian dengan material atap yang perlu dipertimbangkan bersama-sama.

Jika Anda berencana menggunakan atap UPVC dan ingin memastikan kombinasi rangka yang tepat, DR.SHIELD menyediakan panduan teknis yang bisa membantu proses perencanaan. Mulai dari rekomendasi jarak gording, spesifikasi beban, hingga tips pemasangan. Anda bisa menghubungi tim DR.SHIELD untuk konsultasi lebih lanjut sebelum memulai proyek.

Butuh Bantuan? Chat Kami